Artikel Qirsa

Search

Created by :

Pandji Kiansantang
Since 5 August 2010

Website :
PandjiKiansantang.Com

Email :
PandjiKiansantang@gmail.com

Twitter :
@inspirasipanji


Other Websites

 

>> PandjiKiansantang.com <<
WebsiteTulisan Inspirasi
Pandji Kiansantang

 

>> Proklamasi1945.com <<
Segala hal tentang Proklamasi
Kemerdekaan dan Revolusi
Indonesia 1945-1950


Artikel Qirsa
Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu’? PDF Print E-mail
 DI TULIS OLEH YUSEP ISKANDAR R

 Ustadz yang saya hormati, saya ingin menanyakan satu permasalahan. Di daerah saya banyak orang yang mengaku mengikuti madzhab Syafi'iyah, dan saya lihat mereka ini sangat fanatik memegangi madzhab tersebut. Sampai-sampai dalam permasalahan batalnya wudhu' seseorang yang menyentuh wanita. Mereka sangat berkeras dalam hal ini. Sementara saya mendengar dari ta'lim-ta'lim yang saya ikuti bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu'. Saya jadi bingung, Ustadz. Oleh karena itu, saya mohon penjelasan yang gamblang dan rinci mengenai hal ini, dan saya ingin mengetahui fatwa dari kalangan ahlul ilmi tentang permasalahan ini. Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan Jazakumullah khairan katsira.
(Abdullah di Salatiga)

Jawab:
Masalah batal atau tidaknya wudhu' seorang laki-laki yang menyentuh wanita memang diperselisihkan di kalangan ahlul ilmi. Ada diantara mereka yang berpendapat membatalkan wudhu' seperti Imam Az-Zuhri, Asy-Sya'bi, dan yang lainnya. Akan tetapi pendapat sebagian besar ahlul ilmi, di antaranya Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan ini yang rajih (kuat) dalam permasalahan ini, tidak batal wudhu' seseorang yang menyentuh wanita. Wallahu ta'ala a'lam bish-shawab.

Artikel Qirsa - Artikel Qirsa
Written by Yusep Iskandar   
Tuesday, 24 August 2010 12:16
  
Last Updated on Wednesday, 01 September 2010 12:19
Read more...
 
Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan PDF Print E-mail
Artikel Qirsa - Artikel Qirsa
Written by Administrator   
Wednesday, 11 August 2010 13:55

Salah satu sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk lebih bersemangat dalam bersedekah di bulan Ramadhan adalah karena bersedekah di bulan ini lebih dahsyat dibanding sedekah di bulan lainnya. Diantara keutamaan sedekah di bulan Ramadhan adalah:

1. Puasa digabungkan dengan sedekah dan shalat malam sama dengan jaminan surga.

Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang agung, bahkan pahala puasa tidak terbatas kelipatannya. Sebagaimana dikabarkan dalam sebuah hadits qudsi:

كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال عز و جل : إلا الصيام فإنه لي و أنا الذي أجزي به

“Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR. Muslim no.1151)

Dan sedekah, telah kita ketahui keutamaannya. Kemudian shalat malam, juga merupakan ibadah yang agung, jika didirikan di bulan Ramadhan dapat menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

“Orang yang shalat malam karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.37, 2009, Muslim, no. 759)

Ketiga amalan yang agung ini terkumpul di bulan Ramadhan dan jika semuanya dikerjakan balasannya adalah jaminan surga. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إن في الجنة غرفا يرى ظاهرها من باطنها وباطنها من ظاهرها أعدها الله لمن ألان الكلام وأطعم الطعام وتابع الصيام وصلى بالليل والناس نيام

“Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat dikala kebanyakan manusia tidur.” (HR. At Tirmidzi no.1984, Ibnu Hibban di Al Majruhin 1/317, dihasankan Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/47, dihasankan Al Albani di Shahih At Targhib, 946)

2. Mendapatkan tambahan pahala puasa dari orang lain.

Kita telah mengetahui betapa besarnya pahala puasa Ramadhan. Bayangkan jika kita bisa menambah pahala puasa kita dengan pahala puasa orang lain, maka pahala yang kita raih lebih berlipat lagi. Subhanallah! Dan ini bisa terjadi dengan sedekah, yaitu dengan memberikan hidangan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا

“Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)

Padahal hidangan berbuka puasa sudah cukup dengan tiga butir kurma atau bahkan hanya segelas air, sesuatu yang mudah dan murah untuk diberikan kepada orang lain.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka dengan beberapa tamr (kurma kering), jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi, 696)

Betapa Allah Ta’ala sangat pemurah kepada hamba-Nya dengan membuka kesempatan menuai pahala begitu lebarnya di bulan yang penuh berkah ini.

3. Bersedekah di bulan Ramadhan lebih dimudahkan.

Salah satu keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan adalah bahwa di bulan mulia ini, setiap orang lebih dimudahkan untuk berbuat amalan kebaikan, termasuk sedekah. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya manusia mudah terpedaya godaan setan yang senantiasa mengajak manusia meninggalkan kebaikan, setan berkata:

فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Qs. Al A’raf: 16)

Sehingga manusia enggan dan berat untuk beramal. Namun di bulan Ramadhan ini Allah mudahkan hamba-Nya untuk berbuat kebaikan, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة ، وغلقت أبواب النار ، وصفدت الشياطين

“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no.3277, Muslim no. 1079)

Dan pada realitanya kita melihat sendiri betapa suasana Ramadhan begitu berbedanya dengan bulan lain. Orang-orang bersemangat melakukan amalan kebaikan yang biasanya tidak ia lakukan di bulan-bulan lainnya. Subhanallah.

Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar. Karena yang mendasari keyakinan ini adalah hadits yang lemah, yaitu hadits:

يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،

“Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu’). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah). Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan buka  kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun.” Kemudian para Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai buka orang yang berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan buka dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah (no. 1887) dan Al Ash-habani dalam At Targhib (178). Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115), juga oleh Dhiya Al Maqdisi di Sunan Al Hakim (3/400), bahkan dikatakan oleh Al Albani hadits ini Munkar, dalam Silsilah Adh Dhaifah (871).

Ringkasnya, walaupun tidak terdapat kelipatan pahala 70 kali lipat pahala ibadah wajib di luar bulan Ramadhan, pada asalnya setiap amal kebaikan, baik di luar maupun di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah 10 sampai 700 kali lipat. Berdasarkan hadits:

إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة

“Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.” Kemudian Rasulullah menjelaskan: “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna.  Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.” (HR. Muslim no.1955)

Oleh karena itu, orang yang bersedekah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya 10 sampai 700 kali lipat karena sedekah adalah amal kebaikan, kemudian berdasarkan Al A’raf ayat 16 khusus amalan sedekah dilipatkan-gandakan lagi sesuai kehendak Allah. Kemudian ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan sedekah. Lalu jika ia mengiringi amalan sedekahnya dengan puasa dengan shalat malam, maka diberi baginya jaminan surga. Kemudian jika ia tidak terlupa untuk bersedekah memberi hidangan berbuka puasa bagi bagi orang yang berpuasa, maka pahala yang sudah dilipatgandakan tadi ditambah lagi dengan pahala orang yang diberi sedekah. Jika orang yang diberi hidangan berbuka puasa lebih dari satu maka pahala yang didapat lebih berlipat lagi. Subhanallah…


Last Updated on Wednesday, 11 August 2010 13:56
 
Bagaimana Cara Menyambut Bulan Ramadhan? PDF Print E-mail
Artikel Qirsa - Artikel Qirsa
Written by Administrator   
Wednesday, 11 August 2010 09:01

 madrasah ramadhan

Madrasah Ramadhan: Cara Menyambut dan Mengisi Bulan Ramadhan Agar Lebih Bermakna, Durus al-Masjid fi Ramadhan, Aidah Al-Qarni; Ibnu Junaidi, Yadi Indrayadi - - Jakarta: Qiathi Press, 2006. viii + 356 hlm.

Bagaimana Cara Menyambut Bulan Ramadhan?


Allah s.w.t. telah berfirman,

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibabkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka orang diantara kamu yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Orang yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil. Karena itu, orang diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kekurangan bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagumkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. ” (QS.Al-Baqarah: 183-185)

    Saudaraku, telah datang kepada kalian bulan yang mulia dan tamu yang agung!

    Oleh karena itu, marilah kita hidup bersama Rasulullah s.a.w.! Marilah kita pelajari bagaimana Rasulullah s.a.w. menyambut bulan yang agung dan tamu yang mulia itu! Karena dialah yang ma’shum (terjaga dari kesalahan), dan seluruh perkataan dan perbuatannya dijadikan rujukan dan pedoman.

    Allah a.w.t. berfirman, ” Sungguh telah pada (diri) Rasuullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
 (QS. Al-Ahzab: 21)

Last Updated on Thursday, 12 August 2010 13:36
Read more...
 
Mengapa Hidup Semakin Sulit ? (2) PDF Print E-mail
Artikel Qirsa - Artikel Qirsa
Written by Yusep Iskandar   
Friday, 06 August 2010 08:27

oleh : Izzudin Karimi
Minim Taubat

Hal ini berarti banyak maksiat dan dosa, otomatis dan jelas, karena jika taubat melimpah dalam jumlah besar niscaya dosa dan maksiat menurun, sebaliknya adalah sebaliknya. Jika taubat menghadirkan kelapangan dan kemudahan hidup, maka dosa dan maksiat mendatangkan kesempitan dan kesengsaraan hidup. Kesulitan dan kesusahan yang menimpa suatu masyarakat bisa hadir melalui pintu dosa-dosa. Jika kemungkaran mewabah, kemaksiatan merajalela maka Allah Ta'ala akan murka, akibatnya kesulitan dan kesempitan hidup bisa menjadi sebuah hukuman dariNya.

Perhatikan ucapan Nabi Nuh alaihis salam kepada kaumnya, “Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan menambahkan harta dan anak-anakmu serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12).

Janji kemakmuran dan kemudahan hidup begitu kentara dari balik permohonan ampun kepada Allah. Pertama, hujan lebat, deras dan melimpah sehingga sungai mengalir, telaga melimpah dan bendungan penuh, semua itu multiguna bagi kemudahan hidup manusia. Kedua, tambahan harta dan anak-anak sebagai tanda kemakmuran. Ketiga, kebun sebagai penghasil bahan makanan pokok dan sungai sebagai penopang bagi kebun. Penulis yakin jika ketiga perkara ini terwujud pada sebuah masyarakat maka taraf kehidupan masyarakat tersebut berangsur-angsur membaik dan selanjutnya menjadi masyarakat yang makmur.

Asy-Sya’bi berkata, “Umar bin al-Khatthab keluar meminta hujan bersama orang-orang, dan dia tidak lebih dari mengucapkan istighfar, setelah itu dia pulang, seseorang berkata kepadanya, ‘Aku tidak mendengarmu memohon hujan.’ Umar menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan kunci-kunci langit yang dengannya hujan diharapkan turun.’ Lalu Umar membaca ayat di atas.

Imam al-Qurthubi menyebutkan tentang al-Hasan al-Bashri, bahwa seorang laki-laki mengadukan kekeringan kepadanya, maka dia berkata, “Perbanyaklah istighfar.” Lalu datang laki-laki kedua mengadukan kesulitan hidup, maka dia berkata, “Perbanyaklah istighfar.” Lalu datang laki-laki ketiga mengadukan kemandulan, maka dia berkata, “Perbanyaklah istighfar.” Maka seorang hadirin berkata kepadanya, “Orang-orang itu mengadukan perkara-perkara yang tidak sama namun jawaban Anda hanya satu.” Dia berkata, “Aku tidak menjawab dari diriku sendiri, akan tetapi Allah telah berfirman.” Maka al-Hasan membaca ayat di atas.

Kisah ini juga diriwayatkan dari cucu Nabi saw al-Hasan bin Ali semoga Allah meridhainya.

Nabi saw bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah) niscaya Allah memberikan jalan keluar dari setiap kesedihan, solusi dari setiap kesempitan dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak terduga.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim,dan dia menshahihkannya. Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq al-Musnad IV/55 berkata, “Sanadnya shahih.”)

Minimnya taubat atau berkurangnya istighfar yang berarti menjamurnya dosa-dosa adalah fenomena yang merebak di sekeliling kita. Hampir tidak ada sisi kehidupan yang steril dari penyimpangan dan pelanggaran. Bahkan dalam beberapa kondisi pelanggaran sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Yang ma’ruf menjadi mungkar dan yang mungkar menjadi ma’ruf. Kalau sudah begini kesulitan hidup rasanya sulit untuk terangkat.

Minim Perhatian Terhadap Agama

Kurangnya perhatian kepada agama dan hal-hal yang berkaitan dengannya, dakwah dan pendidikan agama, perjuangan Islam dan kaum muslimin bisa menjadi penyebab kesulitan hidup. Pemilik agama, Allah Ta'ala memperlakukan kita seperti kita berperilaku kepadaNya. Jika kita tidak menolong agamaNya, tidak memperjuangkannya, tidak membelanya, tidak perhatian kepadanya, tidak mendukungnya maka Allah Ta'ala tidak akan menaungi kita dengan pertolongan dan rahmatNya, dalam kondisi demikian tidak mengherankan kalau hidup terasa berat dan sukit. Perhatian dari Allah Ta'ala mungkin diraih dengan memberikan perhatian kepadaNya. Kita menolong Allah maka Allah menolong kita. Dengan itu hidup berubah menjadi ringan dan mudah. “In tanshurullaha yanshurkum.” (Muhammad: 7).

Last Updated on Friday, 06 August 2010 08:32
Read more...
 
Mengapa Hidup Semakin Sulit ? -1 PDF Print E-mail
Artikel Qirsa - Artikel Qirsa
Written by Yusep Iskandar   
Friday, 06 August 2010 08:26

oleh : Izzudin Karimi

Hidup semakin sulit, fakta yang sulit untuk dibantah karena kenyataan memang berbicara demikian, beberapa kalangan merasakan hal itu. Harga-harga terus merangkak naik, kebutuhan-kebutuhan hidup semakin mahal bahkan terkadang langka. Lapangan pekerjaan semakin sempit kerena diperebutkan oleh banyak orang, sudah sempit yang menginginkannya banyak lagi, mencari uang tidak mudah, giliran dapat, uang di tangan, dengan mudah ia melayang karena harus dipakai untuk menutupi ini dan itu.

Penulis tidak membeberkan fakta lapangan dalam hal ini karena pembaca bisa melihat atau mendengar sendiri secara langsung. Penulis juga tidak akan mengulas masalah ini dengan kaca mata ekonomi, karena penulis bukan seorang ekonom. Yang paling penting bagi penulis secara pribadi sebagai muslim adalah mengkaji masalah ini dari sudut pandang agama. Mengapa sampai terjadi seperti ini? Apa jawabannya ditilik dari sudut pandang agama? Sebagai seorang muslim, sudut pandang agama dalam menimbang sesuatu adalah lebih penting daripada yang lain, perkara yang lain hanyalah akibat atau imbas dari sudut ini.

Dari sisi pandang agama, penulis melihat kesulitan hidup yang menimpa bisa terjadi karena berbagai macam sebab, di antaranya:

Minim Takwa

Takwa berarti menjaga diri dari azab Allah dengan menaatiNya. Karena orang yang bertakwa adalah orang yang dekat kepada Allah, mempunyai kedudukan tinggi di hadapanNya, memiliki derajat terhormat di mataNya, maka tidak mengherankan jika Allah Ta'ala care (memperhatikan) kepadanya. Dia akan memudahkan hidupnya, melapangkan pintu rizkinya, melindunginya dari marabahaya, mengentaskannya dari kesulitan dan menghilangkan kesedihannya, sehingga kehidupannya menjadi kehidupan yang tenang, tenteram dan berhagia.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3). Dua janji mulia dari Allah kepada orang yang bertakwa, jalan keluar, solusi, problem solving dari apa? Dari apa yang kita ingin keluar darinya, dari kesulitan hidup, dari mahalnya harga-harga, dari kemiskinan dan dari… dari yang lainnya. Ibnu Abbas berkata, “Dari segala kesulitan dunia dan akhirat.” Ini satu. Kedua, rizki yang tidak terduga, rezki nomplok kata orang, tidak terbayang di benak, tidak terlintas dalam pikiran, tiba-tiba ia datang menghampiri.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah-berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96). Perhatikanlah, “Barakaat.” dengan kata jamak yang menunjukkan jumlah besar, di samping itu kata ini mengandung makna kebaikan, artinya apa yang Allah buka untuk mereka membawa kebaikan bagi mereka, di samping itu kata ini mengandung tetapnya kebaikan itu dan kelanggengannya, tidak mudah dicabut. Perhatikanlah, “Dari langit dan bumi.” Ini berarti ia mengalir dan mengucur dari segala arah. Rizki yang datang dari atas turun dan yang datang dari bawa pun muncul, kemakmuran merambah segala segi, kehidupan menjadi mudah dan keberkahan mengelilingi.

Last Updated on Friday, 06 August 2010 08:27
Read more...
 
« StartPrev123456789NextEnd »

Page 7 of 9

Who's Online

We have 8 guests online

SERUAN ISLAMI

TSJS
TSJS
Salam Online
Alif
SO

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday204
mod_vvisit_counterYesterday532
mod_vvisit_counterThis week3804
mod_vvisit_counterLast week4979
mod_vvisit_counterThis month16517
mod_vvisit_counterLast month22681
mod_vvisit_counterAll days659011

Online (20 minutes ago): 5
Your IP: 54.80.97.221
,
Today: May 25, 2018
Visitors Counter

Tips Islami

TIPS CARA MENGHAFAL NAMA-NAMA BULAN
DALAM PENANGGALAN ISLAM
:

Berdasarkan kata-kunci SUKU-KATA
dari Awal huruf nama bulan
(* untuk memudahkan,
hafalkan suku-kata per 2 bulan) :

Mu Sho, Rob-Rob, Jum-Jum,
Ro Sya, Rom Sya & Zul Zul


--» MUharrom SHOfar;
ROBiul awal -ROBi`ul akhir;
JUMadil awal - JUMadil akhir;
ROjab SYA`ban; ROMadhon SYAwal
& ZULqoidah ZULhijjah

@ Mudah kan?

»» Yuk Kita Hafalin (selagi kena
macet di jalan) dan
Diamalin (ajarkan teknik
hafalan ini kepada anak,
keluarga & teman2
sebagai da'wah) !

Seri Poster Islami

Jadwal Imsakiyah
2016 Qirsa

Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa - Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa

SERI DOA HARIAN RAMADHAN

 

 

Kalender Islam

Jadwal Sholat

Peringatan Ayat Quran




Powered by Pandji Kiansantang.