Sejarah Islam di Indonesia : BAB III : ISLAM SEBAGAI KEBUDAYAAN DI INDONESIA

Search

Created by :

Pandji Kiansantang
Since 5 August 2010

Website :
PandjiKiansantang.Com

Email :
PandjiKiansantang@gmail.com

Twitter :
@inspirasipanji


Other Websites

 

>> PandjiKiansantang.com <<
WebsiteTulisan Inspirasi
Pandji Kiansantang

 

>> Proklamasi1945.com <<
Segala hal tentang Proklamasi
Kemerdekaan dan Revolusi
Indonesia 1945-1950


Sejarah Islam di Indonesia : BAB III : ISLAM SEBAGAI KEBUDAYAAN DI INDONESIA PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Sejarah Islam di Indonesia - Sejarah Islam di Indonesia
Written by Administrator   
Tuesday, 06 October 2009 11:54

Oleh : Pandji Kiansantang

 

Berdasarkan asal usulnya, maka antara Agama Samawi & Kebudayaan itu amat berbeda. Untuk Agama, budaya tertentu saja Agama tersebut merupakan bagian dari kebudayaan. Untuk Agama Samawi seperti Islam hal ini tak berlaku, tapi sebaliknya untuk mengatakan kebudayaan itu bagian dari Islam itu kurang cocok. Karena bagaimanapun kebudayaan itu ciptaan manusia, sedangkan Islam itu ciptaan Allah. Jadi tepatnya dalam Agama Islam oleh Allah telah ditentukan tata hidup muslim untuk mencapai kesejahteraannya = Syari’at (Kebudayaan manusia yang diciptakan oleh Allah).

Melihat kesimpulan diatas timbul kesan bahwa kebudayaan ciptaan Illahi itu amat mengikat muslim sehingga mereka tak dapat mengembangkan budi dan dayanya sendiri. Hal ini taklah benar, Allah sekali-kali taklah memaksa manusia untuk mengikuti cara penuh Syariatnya, malah manusia diberi kebebasan untuk mengembangkan ilmu dan akal mereka. Dari sinilah timbul suatu kebudayaan baru yaitu kebudayaan ciptaan manusia muslim yang menuruti ajaran Islam. Dari kedua jenis kebudayaan tadi timbullah apa yang kini disebut sebagai Kebudayaan Islam dan Peradabab Islam. Berhubung bagian-bagian kebudayaan seperti Ekonomi Sosial, Politik dan Filsafat kepercayaan (Agama) akan dibicarakan di bab-bab lainnya, maka diuraikan disini hanya sisanya yaitu Ilmu Pengetahuan, Kesenian, dan Kesusasteraan atau yang lazim disebut “Kebudayaan” [1]dalam arti sempit.

Peradaban Islam mencapai puncaknya selama abad ke-8 sampai dengan abad ke-13 M di Spanyol, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Di bidang Ilmu Pengetahuan dan Filsafat muncullah nama-nama Al-Khawarizm (Aljabar), Jabir Ibn Hayyan (Kimia), At-Thabari (Sejarah), Al-Birunu (Astronomi), Ibn Sina (Kedokteran), Ibn Maskawih (Psikologi), Al-Idrushi (Geografi), Ibn Rusyid (Filsafat), Ibn Khaldun (Sosiologi) dll, mereka adalah pengharum peradabab Islam di bidang ilmu pengetahuan. Sedangkan Al-Farabi (Seni Musik), Ibn Thufail (Prosa), Firdausi (Syair Epos), dan Jalaluddin Ar-Rumi (Sastera) mereka adalah tokoh-tokoh yang mengangkat tinggi derajat kesenian dan kesusasteraan Islam. [2]

 

Pada abad ke-13 adalah pangkal mundurnya Peradaban Islam yang sedang gilang gemilang, hancurnya Baghdad sebagai pusat kebudayaan Islam oleh Bangsa Mongol dan Perang Salib adalah periode dimana kebudayaan Islam yang jaya lenyap beralih kedaratan Eropa. Di abad ke-13 pula dimulainya Dakwah Islam secara intensif di Nusantara, jadi akibat keadaan yang tak menguntungkan itu Indonesia hanya mewarisi sisa-sisa kegemilangan peradaban Islam. Hal ini menyebabkan dalam membentuk peradaban Islam di Indonesia menjadi lebih menitik beratkan menuju gabungan dengan adat-istiadat lama penduduk Indonesia. Inilah ciri kebudayaan Islam di Indonesia khususnya Kesenian dan Kesasteraan.

 

1.1   KESENIAN

 

Seni adalah salah satu fitrah manusia dan merupakan manifestasi Seni                       (Estetika) yang amat disukai ajaran Agama Islam. Dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi terlihat bahwa Islam menegaskan kebersihan dan keindahan sebagai karunia Tuhan. asal mula hukum Islam bagi seni adalah Mubah, tapi bila mengandung hal-hal yang bertentangan dengan Agama hukumnya menjadi haram, derajat hukum bagi  seni ini amat menentukan bagi perkembangan seni sebagai salah satu unsur dalam kebudayaan Islam.

 

Islam melarang lukisan dan pahatan makhluk-makhluk hidup, maka di masa kejayaan kebudayaan Islam tak dikenal seni pahat yang mengobyekan makhluk hidup. Di Indonesia masuk juga arus kesenian Islam, namun kurang kokoh maka pengaruh adat istiadat lama sangat dominan.

 

JENIS-JENIS KESENIAN ISLAM DI INDONESIA :

 

1.      Jenis Tari dan Wayang.

 

  1.  
    1. Seni Tarian

Di Indonesia juga terdapat seni-seni tarian yang bernafaskan Islam terutama di Aceh. Tari Saman yang mempertinggi masuknya Islam di Aceh adalah tanpa diiringi iringan musik sama sekali tapi hanya gerak tari yang diselingi dengan bacaan Shalawat. Tari Seudati di Aceh asalnya adalah dari Kota “Syahadatan “ (Dua Kalimat Syahadat) yang pada mulanya adalah Kesenian Dakwah yang berkembang menjadi Kesenian Hiburan. Sedangakan di daerah-daerah lain, Seni Tari yang bernafaskan Islam kurang menonjol.

 

  1.  
    1. Seni Wayang

Sebelum masuknya Islam di Pulau Jawa, Kesenian Wayang sedang berkembang, yakni berupa Wayang Gedok dan Wayang Purwa dengan cerita Mahabarata dan Ramayana. Ketika Islam baru masuk di Pulau Jawa, para Muballigh bersikap amat Toleransi sekali dengan adat-istiadat lama. Tradisi yang tak bertentangan dengan Islam diteruskan dan disesuaikan dengan ajaran Islam, termasuk seni Wayang ini. Jasa para wali dalam perkembangan Wayang di Indonesia sangat besar artinya. Mereka menyisipkan dalam Genta Mahabarata unsure-unsur Aqidah ibadah dan Akhlaq Islam. Metode yang ditempuh Sunan Kalijaga dalam menjadikan Wayang ini sebagai media Dakwah yaitu dengan cara mempersonifikasikan Rukun Islam yang lima itu sebagai tokoh-tokoh Pandawa Lima yakni, Yudistira sebagai Syahadat, Bima untuk Shalat, Arjuna untuk Zakat, Nakula untuk Puasa, dan Sadewa untuk Haji. Juga kisah-kisah perwayangan ini dijadikan sarana untuk memberantas kemusyrikan dan Tahayul serta mengajarkan Tashawwuf (Mistik). Semua ini dapat berhasil hanya karena penduduk Jawa amat menggemari Perwayangan. Juga Raden Patah (Pendiri Kesultanan Demak) yang amat menyukai Wayang, tapi karena hal itu menyalahi Syari’at Islam karena lukisannya mirip Makhluk hidup, maka beliau menginstruksikan kepada para Wali untuk mengubah bentuknya.

Maka Sunan Kalijaga menciptakan Wayang Kulit dari Kulit Kerbau yang dibuat dengan bentuk miring, yakni mengambil bentuk baying-bayang manusia. Disamping itu Sunan Kalijaga berhasil menciptakan tata-cara Pagelaran Wayang seperti penggunaan Batang pisang untuk menancapkan Wayang, Layar Putih dan Belencong sebagai Bumi, Langit, dan Matahari. Juga para Wali yang lain memberikan andil bagi perkembangan Seni Wayang. Sunan Giri menciptakan kisah baru bagi Wayang Gedok yang bersumber dari Babad Pandji Majapahit dan Pajajaran. Sunan Bonang menciptakan Wayang Beber Gedok. Sunan Kudus menciptakan Wayang Golok yang terbuat dari kayu dan berbentuk mirip boneka yang ceritanya bersumber dari Babad Menak. Beliau juga membuat Wayang Kelitik dari kayu gepeng. Raden Patah sendiripun menciptakan “Simpingan“ yang melambangkan Penghuni Hutan dan Gunung yang ditancapkan di tengah Layar. Demikianlah peranan dan jasa para wali dalam perkembangan dan penyempurnaan kesenian Wayang yang tetap digemari hingga kini.

 

 

2.      Seni Musik

Khususnya mengenai keindahan suara ini ada ayat Al-Qur’an yang menentukannya, yakni Surat Al-Muzammil ayat 4, yang artinya : “Dan bacalah Al- Qur’an dengan lagu yang baik“. Yang dimaksudkan adalah Seni Baca Qur’an (Tilawatil Qur’an). Perkembangan yang menggembirakan di Indonesia telah ada tradisi untuk menyelenggarakan     Musabaqah Tilawatil Qur’an“ (MTQ) secara Nasional setiap tahun. Hal ini berarti kita Bangsa Indonesia, telah memajukan Kesenian yang benar-benar berasal dari Qur’an yang juga merupakan amal ibadah.

 

Disamping Seni Suara tersebut juga terdapat Seni Musik. Memang cabang seni ini kurang populer dikalangan masyarakat Islam. Hal ini berbeda dengan ajaran Kristen yang menjadikan musik di Gereja sebagai kegiatan keagamaan, sehingga berkembang menjadi musik orkes di Eropa yang amat masyhur. Di Indonesia Musik yang sangat senafas dengan Islam dikenal dewasa ini adalah musik Gambus, Rebana dan Qasidahan yang asal mulanya adalah Musik Bangsa Arab sejak masa pra-Islam. Setelah Islam tersebar baru musik-musik itu bertemakan Puja-puja kepada Allah, Rasulullah dan Agama Islam itu sendiri.

 

3.      Seni Bangunan            

Seni hasil peradaban Islam yang pertama kali tiba di Indonesia adalah Batu Nisan yang dihiasi Tulisan Arab dan Ukiran-ukiran lain yang berasal dari Syarat sejak abad 13. Bentuknya adalah Limas, Kapal Terbalik, ataupun Ladam Kuda. Namun Seni bangunan yang menonjol adalah Masjid. Masjid di Indonesia menurut coraknya ada dua jenis, yaitu Corak Lama dan Corak baru.

 

1.      Masjid Corak Lama adalah Campuran corak Hindu Gujarat, Persia dan sedikit corak China. Ciri-ciri Khasnya:

Bentuknya bujur sangakar yang berhadapan dengan Pintu Utama terdapat Mihrab yang menunjukan arah kiblat dan berbentuk melengkung. Berdekatan dengan Mihrab itu terdapat bentuk teratai yang berhiaskan gambar tumbuhan atau hewan.

             Atap Meru, di masa ini Masjid tak berkubah, atapnya berupa “Atap Tumpang“ yang bersusun semakin kecil dari tingkatan yang berjumlah dua sampai enam tingkat. Diatas atap-atap itu terdapat lubang angin. Di masa itu atapnya terbuat dari daun atau serat dari berbagai jenis Palem atau Sirap.

            Menara Masjid, mempunyai satu Serambi disekeliling bagian atasnya. Menara ini hanya terdapat dari beberapa Masjid Raya. Masjid yang pertama kali memakai menara ini adalah Masjid Kudus dan Masjid Banten. Fungsi menara adalah tempat Mudzin menyerukan Adzan setelah terlebih dahulu dilakukan dengan pemukulan beduk.

            Masjid Makam : letaknya diluar kota yang merupakan penggabungan antara Masjid dan Makam dari Raja atau ulama terkenal. Untuk makam itu terlebih yang dianggap keramat didirikan rumah tersendiri, yang disebut Cungkup. Antara Masjid dan Makam terdapat gapura dari jaman kuno.

Masjid Corak lama yang masih ada peninggalannya diperkirakan yang tertua adalah Masjid Demak dan Cirebon yang dibangun diakhir abad ke-15, sedangkan Masjid Corak Lama yang terbaru adalah Masjid Yogya dan beberapa Kota Jawa Tengah di abad ke-18.

 

2.  Masjid Corak Baru

Timbul di abad ke-19 berupa atap Kubah dan Menara Style Timur Tengah. Contoh Masjid Corak baru di abad ke-19 adalah Masjid Bukit Tinggi, Masjid Medan, Masjid Kota Raja yang baru di  Aceh dll. Lebih pesat sesudah masa kemerdekaan Indonesia, karena hubungan RI dengan Timur Tengan lebih erat. Di Zaman Revolusi Pisik terkenal Masjid Raya, Ujung Pandang (1949) dan Masjid Syuhada di Yogya (1950). Yang menjadi kebanggaan umat Islam Indonesia adalah Masjid Istiqlal yang dibangun sejak 1960-an dan kini mencapai tahap penjelasan secara sempurna.

Masjid ini yang berstyle bebas dan mengembalikan fungsi asli Masjid, yakni dengan adanya kantor-kantor Dakwah dan umat Islam. Oleh Guines Book Of Records Masjid Istiqlal dinyatakan Masjid terbesar di Dunia yang melampaui Masjid terbesar sebelumnya, yakni Masjid Al-Malawiya di Irak yang dibangun pada abad ke-9 dan kini sudah menjadi reruntuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2 KESUSASTERAAN[3]

 

1.      Bahasa dan tulisan Arab

            Adalah Bahasa Islam ataupun Bahasa Al-Qur’an (Qura’anan Arabyyan) memang pilihan Illahi amat Agung. Al-Qur’an adalah Mukjizat sepanjang masa, keindahan gaya Bahasa dan susunan katanya amat tinggi nilai seni dan keindahannya. Mukjizat itu diturunkan dalam Bahasa Arab yang tinggi pula seninya[4]. Inilah bukti yang tak dapat dibantah bahwa Islam mengindahkan seni.

Mengapa Indonesia yang Muslim itu tak berbahasa Arab ?

Ini berhubungan erat dengan proses dakwah di Indonesia, seperti yang telah dijelaskan dimuka bahwa Bangsa Arab itu amat asing dan sukar dipahami bagi Bangsa Indonesia kuno. Hal ini karena yang merasa pakai yaitu Bahasa Sansekerta berhuruf Palawa dan Bahasa Jawa kuno berhuruf Jawa yang berasal dari India amat berbeda dengan Bahasa Islam itu.

Sebagai pemecahannya digunakanlah “Lingua Franca“ yakni Bahasa Melayu dari Semenanjung Melayu. Dalam Bahasa Melayu unsur Bahasa Arab dan Sansekerta amat besar pengarunya, perpaduan ketiga Bahasa ini biasanya disebut Bahasa Melayu Arab. Dengan Bahasa Melayu Arab inilah Bahasa Melayu lebih memahami ajaran Islam. Dengan Bahasa ini ditulislah hasil-hasil Sastera Islam Indonesia di abad pertengahan. Perkembangan selanjutnya kedalam Bahasa Melayu Arab itu masuk pula unsur-unsur Bahasa China, Persia, Portugis, Inggris dan Belanda yang ahirnya mewujudkan Bahasa Indonesia.

 

2.   Hasil-Hasil Sastera

Kesusasteraan Islam tertulis tertua di Indonesia adalah Sya’ir, di makam Muslim di Minje Tujo Aceh pada tahun 1380 M yang bertuliskan Palawa dengan Bahasa Melayu Arab. Jenis-jenis peninggalan sastera Islam di Indonesia yaitu : 

 

a.      Syair

 

Berasal dari kata Syu’ur yang berarti perasaan. Bangsa Arab terkenal amat mahir dan merdu bersya’ir, oleh karena itu sya’ir merupakan salah satu kebanggaan mereka sejak masa lampau.

Bersamaan dengan tibanya mereka di Indonesia untuk berdagang dan berdakwah masuk pula sya’ir dalam Khasanah Kesusasteraan Indonesia. Untuk sya’ir yang lebih bebas dari puisi-puisi di zaman Hindu juga menyebabakan digemari oleh bangsa Indonesia untuk melukiskan dan memperindah suatu cerita.

Di abad ke-17 M terkenal sya’ir ciptaan Hamzah Fansuri dari Barus yang berisi ajaran Tashawwuf Wihdatul Wujud, yakni Sya’ir Perahu, Sya’ir Siburung Pingai dll.

Di zaman peralihan masyhurlah sya’ir Singapore di makam Api Gubahan Abdullah Ibn Abdul Kadir Munsyi dan Sya’ir Abdul Muluk karangan Siti Saleha pada pertengahan abad ke-19. Di antara Sya’ir-sya’ir Melayu yang terutama bersifat Istana Centris, juga terdapat yang mengetengahkan tentang ajaran Islam seperti Sya’ir Burung atau Sya’ir Unggas dan Sya’ir Budiman. Terdapat juga sya’ir yang mengisahkan Sejarah  kerajaan-kerajaan Islam dalam menentang penjajahan Bangsa Eropa seperti Sya’ir Perang Makasar (1667), Sya’ir Perang Menteng tentang perebutan Kota Palembang (1819-1821) dan Sya’ir Perang Banjarmasin (1859-1863).

 

  1. Hikayat

 

Berasal dari kota Arab yang berarti cerita atau penuturan. Dalam sastera Melayu berarti cerita khayal. Dalam sastera Minangkabau berarti riwayat yang dibacakan dengan irama dan didengarkan.

Jadi berdasarkan temannya dibedakan dalam 2 jenis yaitu :

a). Cerita Khayal Murni

b). Campuran Khayal sejarah

Umumnya cerita Khayal dan Sejarah itu termasuk Babad. Sedangkan cerita Khayal murni ada yang merupakan Gubahan dari Hikayat Hindu dan ada pula Hikayat Melayu Tengah yang di Melayukan. Di antara  kisah-kisah Hindu disisipi unsur-unsur Islam dan nama atau judulnya pun diganti menjadi nama/judul Islam. Seperti Pencatantra yang versi Islamnya menjadi Hikayat Kalilawa Dimna. Sedang Hikayat Si Miskin asalnya dari Timur Tengah adalah Hikayat Anbiya (tentang Nabi-Nabi dalam Islam), Hikayat Nabi Muhammad dan Para Sahabatnya, dan Hikayat Amir Hamzah             (Pamannya Nabi Muhammad) yang asalnya dari Persia yang telah terkenal sejak masa Islam di Nusantara. Hikayat Amir Hamzah di Jawa disebut Serat Menak (abad 18) dan amat populer pula hingga Palembang  dan Lombok. Hikayat yang terkenal lainnya adalah Hikayat Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung Versi Islam) yang amat masyhur disekitar Laut Tengah, Hikayat Bachtiar yaitu cerita berbingkai dari Persia yang di Melayukan. Hikayat Hang Tuah merupakan cerita khayal  yang dilandasi sejarah Melayu, dari pertengahan abad ke-15 sampai dengan abad ke-17 menimbulkan kejayaan Kesultanan Malaka. Serta terdapat hikayat-hikayat Jenaka seperti Hikayat Abu Nawas yang menceritakan kegemilangan pemerintahan Harun Ar-Rasyid (asalnya adalah dari Persia yaitu Kisah 1001 Malam atau Alf Laillah Walaillah) dan dongeng Binatang/Fabel yang dimasuki unsur ajaran Islam dan biasanya membawa tokoh Nabi Sulaiman AS (Nabi yang menguasai Manusia, Hewan dan Jin).

 

  1. Babad/Tambo

Adalah kisah sejarah yang berupa cerita lebih menekankan sebagai Karya Sastera dari pada sebagai catatan sejarah (Kronik). Para ahli sepakat bahwa sastera sejarah ini kurang memadai untuk dijadikan sumber sejarah karena unsur Mythe, legenda dan dongeng. Faktor lain, karena cerita itu ditulis secara subyektif hanya mementingkan Keagungan Kerajaan-kerajaan Islam yang mempunyai Tambo/Babad tersendiri. Hal ini merupakan kemajuan karena terjadi di zaman Hindu.

 

 Indonesia sangat miskin Sastera Sejarah. Sastera-sastera sejarah yang terkenal adalah :

 

  1.  
    1. Hikayat Raja-raja Pasai, yang meriwayatkan tentang berdirinya Kesultanan Pasai hingga penaklukan Majapahit atas Sumatera (1350 M).
    2. Sejarah Melayu, ditulis oleh Bendahara Tun Muhammad Sri Lanang yakni Patih Kerajaan Johor yang dikerjakan selama (1612-1615). Isi Sejarah Melayu meliputi riwayat Iskandar Zulkarnain, Tata adat Kesultanan Malaka dan bagian terakhirnya mengisahkan usaha Raja Johor untuk menguasai Malaka kembali (abad ke-17 M).
    3. Babad Tanah Jawi, menguraikan sejarah  Pulau Jawa mulai zaman Nabi Adam hingga tahun 1722 M. Babad ini diciptakan oleh Kerajaan Mataram Islam dimana pengaruh Hindu yang masih kuat dalam kerajaan itu tampak jelas dalam Babad ini.
    4. Hikayat Hasanuddin, (Sejarah Banten Rante-rante) tentang asal mula Islam di Tanah Jawa, disusul kehadiran para Wali dan diakhiri oleh Pemerintahan Sultan Banten Hasanuddin pada abad ke-17M.
    5. Hikayat Aceh, menceritakan tentang pahlawan-pahlawan Aceh terutama Sultan Iskandar Muda.

 

Juga terdapat Babad Demak, Babad Cirebon, Hikayat Banjar, Silsilah Melayu dan Bugis, Tambobangkahalu, Tambi Minangkabau dll.

Sastera sejarah yang terakhir adalah Babad Giyanti tentang Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang ditulis oleh Kyai Yosadipura, Babad Diponegoro tentang Perang Diponegoro (1825-1830), serta Tuhfat An-Nafis yang ditulis Raja Ali Haji di Pulau Penyengat (1360) mengenai sejarah sultan-sultan Melayu di Selat Malaka hingga abad ke-17 M.

 

 

 

 

 

 

  1. Kitab-Kitab Agama Islam yang ditulis oleh Ulama-Ulama Indonesia di zaman Klasik.

Terdiri dari beberapa jenis :

 

  1. Kitab Suluk yang membentangkan masalah Tashawwuf (Mistik), yang terkenal ada 5 macam, di antaranya adalah :

 

  1.  
    1. Asrar al Arifin dan Syarab Al Asyiqin Karay Hamzah. Fansuri tentang Wihdatul Wujud.
    2. Het Boek Van Bonang, terjemahan Belanda dari kitab Sunan Bonang tentang tandingan terhadap Wihdatul Wujud.
    3. Suluk Wujil, yaitu Wejangan Sunan Bonang kepada Wajil yakni seorang kerdil bekas dayang Raja Majapahit mengenai ilmu kesempurnaan hidup.
    4. Suluk Malang Sumirang, yang mengagungkan orang yang telah mencapai kesempurnaan dalam ajaran Tasawwuf Wihdatul Wujud yakni berhasil bersatu dengan Tuhan.
    5. Suluk Sukarsa, tentang Ki Sukarsa yang mencari ilmu sejati untuk mendapatkan kesempurnaan. Hampir mirip Dewa Ruci versi Islam.

 

  1. Lain-lain Kitab

 

  1.  
    1. Tajus Salatina, (Mahkota raja-raja) yang dipimpin oleh Buchari Al Jauhari. Berisi tentang ajaran-ajaran Islam untuk diteladani oleh Sultan, Mentri-mentri dan rakyat sekalian.
    2. Bustanus Salatina, (Peraturan Raja-raja) yang ditulis oleh Nuruddin Ar-Rahmi tahun 1638 di Aceh. Berisi cerita penciptaan Bumi dan Langit, Riwayat Para Nabi, Riwayat Para Raja hingga raja-raja di Aceh. Bagian terakhir menguraikan tentang Raja yang Adil, Pegawai-pegawai yang Cakap, Raja Tawakal dan orang-orang Shaleh, Raja dan Pegawai yang Adil Pahlawan, perihal akal dan berbagai macam pengetahuan lainnya.
    3. Suasana Sunu yang berisi ajaran-ajaran moral dan Adat Istiadat Islam yang ditulis oleh Kyai Yosadi Pura II di Surakarta 1825.


[1] Kebudayaan : berasal dari kata Budi dan daya

definisinya, hasil karya cipta manusia dari akal budinya menuju kesejahteraan manusia itu,  pelaksanannya disebut peradaban. Meliputi Ekonomi, Sosial, Politik, Ilmu Pengetahuan, Seni dan Sastera serta Filsafat dan kepercayaan

[2]Disamping keduanya, hubungan dengan Timur Tengah Islam juga terdapat lainnya, seperti   pengetahuan dan Tekhnologi pembuatan kapal dan alat-alat navigasi dimana Timur Tengah terkenal akan keahlian tersebut.

 

 

[3] . Kesusasteraan adalah himpunan huruf atau tulisan yang memiliki Bahasa indah dan baik pula.

[4]. Karena itulah maka orang Arab menamakan dirinya Arab yang artinya adalah pembicara-pembicara yang   fasih, sedang yang selain berBahasa Arab dinamakan dinamakan Bangsa Ajam (pembicaraan yang tak Fasih).

 

Last Updated on Thursday, 12 August 2010 14:37
 

Who's Online

We have 50 guests online

SERUAN ISLAMI

TSJS
TSJS
Salam Online
Alif
SO

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday298
mod_vvisit_counterYesterday993
mod_vvisit_counterThis week5330
mod_vvisit_counterLast week5804
mod_vvisit_counterThis month16151
mod_vvisit_counterLast month15733
mod_vvisit_counterAll days635964

Online (20 minutes ago): 11
Your IP: 54.81.166.196
,
Today: Apr 21, 2018
Visitors Counter

Tips Islami

TIPS CARA MENGHAFAL NAMA-NAMA BULAN
DALAM PENANGGALAN ISLAM
:

Berdasarkan kata-kunci SUKU-KATA
dari Awal huruf nama bulan
(* untuk memudahkan,
hafalkan suku-kata per 2 bulan) :

Mu Sho, Rob-Rob, Jum-Jum,
Ro Sya, Rom Sya & Zul Zul


--» MUharrom SHOfar;
ROBiul awal -ROBi`ul akhir;
JUMadil awal - JUMadil akhir;
ROjab SYA`ban; ROMadhon SYAwal
& ZULqoidah ZULhijjah

@ Mudah kan?

»» Yuk Kita Hafalin (selagi kena
macet di jalan) dan
Diamalin (ajarkan teknik
hafalan ini kepada anak,
keluarga & teman2
sebagai da'wah) !

Seri Poster Islami

Jadwal Imsakiyah
2016 Qirsa

Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa - Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa

SERI DOA HARIAN RAMADHAN

 

 

Kalender Islam

Jadwal Sholat

Peringatan Ayat Quran




Powered by Pandji Kiansantang.