“UANG RECEH” UNTUK TUHAN

Search

Created by :

Pandji Kiansantang
Since 5 August 2010

Website :
PandjiKiansantang.Com

Email :
PandjiKiansantang@gmail.com

Twitter :
@inspirasipanji


Other Websites

 

>> PandjiKiansantang.com <<
WebsiteTulisan Inspirasi
Pandji Kiansantang

 

>> Proklamasi1945.com <<
Segala hal tentang Proklamasi
Kemerdekaan dan Revolusi
Indonesia 1945-1950


“UANG RECEH” UNTUK TUHAN PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Tips Ramadhan - Tips Ramadhan
Written by Administrator   
Thursday, 12 August 2010 14:10
Oleh : "Pandji Kiansantang

Sedihnya, ini fenomena umum yang ada di umat Islam.
Ketika pergi ke mesjid (termasuk untuk shalat Jum'at), kebanyakan dari kita, tidak pernah secara khusus meniatkan diri untuk memberi sumbangan (shadaqah) ke mesjid. Kalaupun ada, maka yang akan dibagikan adalah recehan (Rp 100 - 500 logaman).
Adalah biasa bagi kita mendengar bunyi khas "celenteng" setiap jamaah memasukan shadaqahnya ke Kotak Amal pada waktu Shalat Jum'at, yang berarti yang dimasukkan adalah uang logaman. Memang bukan jumlahnya yang dipentingkan, tapi ketulusan niatnya yang diutamakan, dan yang menyumbang ini walau "ala kadarnya" masih jauh lebih baik dari yang tidak menyumbang sama sekali. Namun yang bikin ngenes, ternyata penyumbang "uang recehan" ini termasuk juga Bapak-bapak berdasi yang datang ke mesjid  dengan mobil mewahnya dan uang yang segepok di dompetnya.

Kalau saja dari semua jamaah Shalat Jum'at meniatkan untuk memberi minimal Rp. 10.000,- (sepuluh ribu tiap minggu atau Rp. 40 ribu setiap bulan, untuk karyawan harusnya bukan jumlah yang "besar", terlebih lagi, kalau kita belum secara rutin membayarkan zakat harta), maka insya Allah. akan ikut "memakmurkan" mesjid-mesjid di sekitar kita, sehingga para pengelola mesjid bisa lebih menggiatkan kegiatan-kegiatan syiar Islam di lingkungannya (selain dana untuk maintenance mesjid).
 
Memberikan "yang terbaik dari yang kita miliki" kepada Tuhan, seperti yang diperintahkan Allah dalam firmanNya "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai" (QS. Ali Imran ayat 92) dan yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dengan mengurbankan putra tersayanganya, Ismail (yang tiap tahun kita peringati dalam Hari Raya Idul Qurban), nampaknya BELUM menjadi budaya kita.
Bagi kebanyakan dari kita, "Dana sosial" masih identik dengan "Uang receh" dan 'Pakaian Bekas" (walau dengan embel2 "masih layak pakai").

Belum lagi kalau ditanyakan  2 pertanyaan berikut pada kita :
1. Apakah Anda tahu bahwa Zakat Mal (Zakat Harta; untuk karyawan,
    besarnya : 2,5%) itu Wajib (Fardhu) sifatnya?
    Kebanyakan dari kita, akan menjawab : ”Ya”,
2. Apakah Anda sudah secara rutin, membayar Zakat Harta itu ?
    Kebanyakan dari kita akan menjawab : "Belum", dengan berbagai alasan
    (kebanyakan berdalih : belum tahu caranya. Lalu kalau ”belum tahu caranya”,
    Tidakkah kita perlu mencari tahu? Akan kita terus "bermain" di antara
     ”ketidaktahuan” kita sehingga kita "terbebas" dari kewajiban ini?  

Berbicara tebntang sikap manusia yang berani ”bermain-main” dengan ”hak Tuhan” ini, saya teringat suatu humour, yaitu ada 2 tokoh agama  yang bertemu dan berdiskusi tentang bagaimana cara mengelola dana yang dipercayakan oleh umat masing-masing.
Si Tokoh Agama A bilang : Jumlah uang umat yang terkumpul, akan saya bagi 2. Separuh untuk Tuhan, dalam arti digunakan untuk kepentingan agama, sedangkan separuhnya lagi untuk honor saya sebagai ”pemimpin umat”.
Si Tokoh Agama B bilang : Kalau saya, lain caranya. Saya tidak mau memberi ”jatah” pada Tuhan. Semua uang umat yang terkumpul, akan saya lempar ke atas. Tuhan boleh mengambil sebanyak yang IA mau, boleh juga semuanya. Sisanya, uang yang jatuh ke bawah, adalah "hak” saya.


Kita harus tekadkan agar "Qurban" dalam arti memberikan yang terbaik dari yang kita miliki untuk Tuhan, agar menjadi bagian dari sikap hidup kita.

Allah mengingatkan bahwa ”dalam harta kita terdapat bagian untuk orang miskin”, sehingga jika kita tidak menyisihkan dana untuk orang miskin berarti kita bersikap ”khianat” pada ”amanah” (harta sebagai ”titipan”) Allah itu.
Shadaqah itu menghindarkan kita dari bencana (bala). Untuk itu, janganlah kita
baru mau bersedekah, setelah Allah SWT ”menegur” (mengingatkan) kita untuk bersedekah, melalui cara : tertimpa Musibah. Naudzubillah min zalik.
Mari kita bersedekah.
Last Updated on Thursday, 12 August 2010 14:25
 

Who's Online

We have 29 guests online

SERUAN ISLAMI

TSJS
TSJS
Salam Online
Alif
SO

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday656
mod_vvisit_counterYesterday642
mod_vvisit_counterThis week656
mod_vvisit_counterLast week4031
mod_vvisit_counterThis month13219
mod_vvisit_counterLast month11772
mod_vvisit_counterAll days726536

Online (20 minutes ago): 13
Your IP: 54.198.52.82
,
Today: Sep 23, 2018
Visitors Counter

Tips Islami

TIPS CARA MENGHAFAL NAMA-NAMA BULAN
DALAM PENANGGALAN ISLAM
:

Berdasarkan kata-kunci SUKU-KATA
dari Awal huruf nama bulan
(* untuk memudahkan,
hafalkan suku-kata per 2 bulan) :

Mu Sho, Rob-Rob, Jum-Jum,
Ro Sya, Rom Sya & Zul Zul


--» MUharrom SHOfar;
ROBiul awal -ROBi`ul akhir;
JUMadil awal - JUMadil akhir;
ROjab SYA`ban; ROMadhon SYAwal
& ZULqoidah ZULhijjah

@ Mudah kan?

»» Yuk Kita Hafalin (selagi kena
macet di jalan) dan
Diamalin (ajarkan teknik
hafalan ini kepada anak,
keluarga & teman2
sebagai da'wah) !

Seri Poster Islami

Jadwal Imsakiyah
2016 Qirsa

Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa - Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa

SERI DOA HARIAN RAMADHAN

 

 

Kalender Islam

Jadwal Sholat

Peringatan Ayat Quran




Powered by Pandji Kiansantang.