INTROSPEKSI BAGI KITA UNTUK MENGKOREKSI PERILAKU YANG KELIRU (TIDAK ISLAMI) DI BULAN RAMADHAN

Search

Created by :

Pandji Kiansantang
Since 5 August 2010

Website :
PandjiKiansantang.Com

Email :
PandjiKiansantang@gmail.com

Twitter :
@inspirasipanji


Other Websites

 

>> PandjiKiansantang.com <<
WebsiteTulisan Inspirasi
Pandji Kiansantang

 

>> Proklamasi1945.com <<
Segala hal tentang Proklamasi
Kemerdekaan dan Revolusi
Indonesia 1945-1950


INTROSPEKSI BAGI KITA UNTUK MENGKOREKSI PERILAKU YANG KELIRU (TIDAK ISLAMI) DI BULAN RAMADHAN PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Tips Ramadhan - Tips Ramadhan
Written by Administrator   
Thursday, 12 August 2010 14:13
Oleh : Pandji Kiansantang

PENDAHULUAN
 Mereka yang maju adalah mereka yang Berani untuk mengakui kesalahan yang pernah dilakukannnya dan memperbaikinya.
Fakta-fakta berikut ini mungkin ”Pahit untuk diungkapkan, tapi perlu disampaikan untuk kemajuan” mengikuti sunnah Nabi ”Katakan yang Haq walau Pahit”.

Penyampaian ini bukan untuk menujukkan bahwa ”kitalah yang paling benar”, lalu menghakimi pihak-pihak tertentu. Tetapi sebagai koreksi bagi kita semua, termasuk saya sendiri, yang mungkin pernah melakukan hal-hal ini.
Untuk itu, sebelumnya saya mohon dibukakan pintu maaf jika ada penyampaian yang  tidak berkenan.
Mari kita perbaiki sikap kita dalam bulan Ramadhan, dengan belajar melatih diri untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasan negatif dan menumbuhkan semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaijikan).

Saya mengamati, sedikitnya ada 14 Perilaku di kalangan ummat Islam di Bulan Ramadhan ini, yang dapat dinilai sebagai ”keliru” atau ”tidak Islami”, yaitu :

1. Tidak mengetahui hukum-hukum puasa serta tidak menanyakannya.
Karena dianggap sebagai ”Ibadah rutin” tahunan, maka banyak di antara kita yang ”berpuasa seperti tahun-tahun sebelumnya”..
Padahal penting untuk selalu meningkatkan pemahaman agama, khususnya tentang adab berpuasa (fiqhus shiyam). Dengan semakin terbuka wawasan kita untuk ”berpuasa secara benar”, maka Insya Allah, barakahnya akan berlipat ganda.
Caranya adalah dengan mau terus belajar dan bertanya, sebagaimana Firman Allah "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui." ( An-Nahl: 43).
Sebaliknya mereka yang berpuasa tanpa dibekali ilmu, maka hasilnya tidak akan memuaskan. Sabda Nabi : ”Banyak di antara yang berpuasa, tapi hasilnya hanya lapar dan haus saja” (HR Ibn Huzaimah)

2. Ta'at hanya di bulan Ramadhan.
Seperti Film ”Mendadak Dangdut”,  ada sebagian orang, bila datang bulan Ramadhan mereka ”Mendadak Alim”, dengan bertaubat, shalat dan puasa. Tetapi jika bulan Ramadhan telah berlalu mereka kembali lagi meninggalkan shalat dan melakukan berbagai perbuatan maksiat. Alangkah celaka golongan orang seperti ini, sebab mereka hanya takut pada  Allah di bulan Ramadhan saja.
Karena itu, hendaknya mereka bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha  dan menjadikan Ramadhan ini sebagai Awal perbaikan diri dengan terus konsisten untuk beramal ibadah di bulan-bulan sesudahnya.

3. Hanya berpuasa dan beramal saleh di awal Ramadhan saja. Atau hanya berpuasa di awal dan akhir saja, yang disebut  ”puasa kendang”
Ini yang namanya ”hangat-hangat tahi ayam”. Pertandanya dapat terlihat dari ramainya Mesjid atau majelis-majelis taqlim, yang hanya ramai di awal Ramadhan. Sesudah itu makin sepi saja. Hari-hari menjelang Ramadhan, banyak jemaah yang tadinya ”memakmurkan mesjid” di awal Ramadhan, pindah meraimakan pusat perbelanjaan.

4. Puasa tetapi tidak shalat.
Sebagian orang ada yang berpuasa, tetapi meninggalkan shalat. Mereka ikut Sahur, tapi tidak Shalat Subuh. Ikut berbuka puasa, tapi tidak Shalat Maghrib, apalagi Shalat Tarawih.
Ini sangat disayangkan, karena shalat adalah tiang agama Islam.

5. Hanya menjaga hal-hal lahiriah, tapi tidak mengubah perilaku
Banyak orang yang ”berpuasa lahiriah” seperti makan, minum dan berhubungan badan dengan isteri, tetapi tidak ”puasa maksiat”. Ibaratnya seperti ”Ibadah rajin, Maksiat Jalan Terus”. Mereka ini tetap saja melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan puasa, seperti menggosip, memfitnah atau memandang lawan jenis dengan bersyahwat. Berpuasa, tapi Korupsi jalan terus, bahkan makin giat untuk ”kejar setoran” menghadapi Lebaran.
Nabi bersabda : "Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum."(HR. Al Bukhari).

6. Mengumbar nafsu belanja
Bulan suci Ramadhan seharusnya bisa dimaknai bukan saja harus menahan lapar dan dahaga, tetapi seharusnya juga bisa menahan segala hawa nafsu untuk berbelanja yang tidak prinsipil., atau bisa membedakan mana yang ”kebutuhan” (needs) dan mana yang ”keinginan” (wants) yang lebih bersifat lifestyle dan gengsi.
Tapi apa yang terjadi, justru sebaliknya. Bulan Puasa merupakan bulan gonjang-ganjingnyaya perekonomian keluarga, karena  "besar pasak daripada tiang.  
Ironis kita mampu menahan hawa nafsu, tapi justru mengumbar nafsu komsumtif.  Ngabuburit ke mal tampaknya  jadi pilihan tepat menunggu saat-saat berbuka puasa, tapi tanpa disadari, sambil JJS, disitulah "racun" dompet mulai beraksi.
Bulan Ramadhan adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh para pedagang, dengan berbagai promosi ”Ramadhan atau Lebaran  Big Sale”. Angka statistik perdagangan menunjukkan menjelang Idul Fitri adalah lonjakan besar dalam sejarah perdagangan untuk pasar domestik. Semua orang sibuk berlomba-lomba berbelanja, membeli pakaian, bahan makanan, bahkan alat transportasi (mobil atau motor untuk ”pulang kampung”). Tambahan pendapatan berupa THR pun habis untuk membeli barang-barang konsumtif, sehingga tidak menyisakan untuk bersedekah apalagi membayar zakat harta dan menabung. Lebih celaka lagi, kalau untuk ”tampil beda” di Hari Raya, maka orang mau berhutang, baik dengan fasilitas kartu kredit (over limit), koperasi atau sampai lintah darat. Ini namanya, bukan berkah yang didapat dari bulan Ramadhan, tapi justru mudharat.

7. Berbuka puasa dengan sesuatu yang haram atau berlebih-lebihan.
”Berhasil menyelesaikan puasa pada hari ini” dimakna secara berlebihan, dengan makan dan minum ”secara kalap”, bagaikan ”balas dendam”. Atau berbuka di restoran yang kehalalannya tidak terjamin. Ini sangat disayangkan, karena menurut Nabi, Orang yang makan atau minum dari sesuatu yang haram tak akan diterima amal perbuatannya dan tak mungkin pula dikabulkan doanya.
8. Begadang untuk sesuatu yang tidak terpuji
Sebagian orang beranggapan bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk tidur dan bermalas-malasan di siang hari, serta untuk begadang di malam hari. Lebih. Banyak orang yang begadang pada malam-malam Ramadhan dengan melakukan sesuatu yang kurang terpuji, seperti bermain kartu, nongkrong di pinggir  jalan. Bagi remaja : trek-trekan atau ”Jalan-Jalan Subuh” sambil ”ngeceng”. Pada tengah malam mereka baru pulang dan langsung sahur kemudian tidur. Karena kelelahan, mereka tidak bisa bangun untuk shalat Shubuh berjamaah pada waktunya. Hal-hal semacam ini sangat berbahaya dan merugikan mereka sendiri.

9. Lemas dan malas ketika bekerja di siang hari
Berita di surat kabar  menyatakan ”Terjadi penurunan aktivitas kerja di Kantor-kantor Pemerintah karena banyak pegawai yang bolos kerja atau terlambat datang ke kantor”.
Banyak karyawan muslim yang di bulan Puasa ini dihinggapi sindrom 5 L : ”Letih, Lemas, Lesu, Loyo karena Lapar”.
Puasa dijadikan alasan pembenarannya (excuse) turunnya produktivitas dan semangat kerja.  Ini adalah tantangan bagi kita karyawan dan pelajar muslim, agar kita tidak dicap ”malas” selama Bulan Puasa, dengan cara tetap bersemangat dan menjaga kebugaran selama bekerja.

10. Meninggalkan shalat tarawih.
Shalat Tarawih sebagai Shalat Malam di Bulan Ramadhan sudah diketahui keutamaannya.
Sayangnya, banyak umat Islam yang meninggalkan shalat taraweh. Barangkali ada yang  rajin melakukannya pada awal-awal bulan Ramadhan dan malas ketika sudah akhir bulan. Ataupun hanya ikut Shalat tarawih tapi tidak mau mendengarkan Ceramah Tarawih.
Alasan mereka, shalat taraweh hanyalah sunnah belaka, padahal ibadah ini adalah sunnah mu'akkad yang sangat  dianjurkan oleh Nabi. Bahkan mungkin orang yang melakukan shalat taraweh itu bertepatan dengan turunnya Lailatul Qadar, sehingga ia mendapatkan keberuntungan dengan ampunan dan pahala yang amat besar.

11. Tergesa-gesa dalam shalat Tarawih
Rakaat yang panjang dalam shalat Tarawih memang berpotensi menimbulkan ketidakhusyuan
Ada  imam shalat tarawih amat tergesa-gesa dalam shalatnya. Mereka melakukan gerakan-gerakan dalam shalatnya dengan amat cepat, sehingga menghilangkan maksud shalat itu sendiri. Mereka dengan cepat membaca ayat-ayat suci Al- Qur'an, padahal semestinya ia membaca secara tartil. Mereka tidak thuma'ninah (tenang) ketika ruku', sujud, bangun dari ruku' dan ketika duduk antara dua sujud, ini adalah tidak boleh dan shalat menjadi tidak sempurna karenanya. Shalat adalah timbangan, barangsiapa menyempurnakan timbangannya maka akan disempurnakan untuknya.

12. Tidak bersikap toleran terhadap ummat Islam yang bersikap lain.
Perbedaan pendapat dalam masalah agama (Khilafiyah) adalah suatu kenyataan dalam masyarakat Islam. Sungguh merupakan bencana kalau itu dijadikan sebagai sumber perpecahan dan saling menghujat. Misalnya : dalam waktu penetapan awal bulan Ramadhan sehubungan dengan digunakannya metode hisab dan rukyat.
 Juga perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat shalat Tarawih atau perlu tidaknya melafalkan Niat untuk berpuasa. Sebaiknya, kita lebih melihat persamaan daripada melihat perbedaannya. Persamaannya, Alhamdulillah kita sama-sama shalat Tarawih – terlepas jumlah rakaatnya.
Mari belajar untuk lebih toleran terhadap sesama muslim yang pandangannya berbeda, dan tidak mudah mengambil alih peran Tuhan, dengan mencap ”sesat” pada mereka yang berbeda. Sesungguhnya tindakan tak terpuji ini dilarang oleh Rasulullah.  

13. Menuntut berlebihan agar masyarakat menghormati orang berpuasa
Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, akan ada etika non-muslim untuk menghormati yang puasa. Tapi tidak pantas, jika kita memaksa mereka untuk itu, bahkan juga tidak untuk memaksa semua muslim untuk berpuasa. Allah sendiri menyatakan  ”Tidak ada paksaan dalam agama” dan ayat tentang Puasa menujukkan bahwa Puasa itu hanya untuk orang-orang beriman.
Tapi kenyataannya di masyarakat, ada kelompok-kelompok yang bersikap keras terhadap mereka yang yang dianggap ”tidak menghormati kesucian bulan Ramadhan. Cara yang dilakukan adalah Sweeping  yang berakibat anarkis dan kekerasan. Cara-cara kekerasan ini patut disayangkan, karena sepanjang tidak mengganggu atau menghalang-halangi umat Islam untuk berpuasa, tidak ada alasan yang kuat untuk memaksa fihak lain ”untuk menghormati kita yang berpuasa”. Semangat Puasa (arti shiyam) adalah ”menahan diri” dari emosi dan menghindarkan konflik.

14. Tidak tumbuh rasa kasih sayang pada kaum dhuafa.
Salah satu tujuan Puasa Ramadhan adalah agar kita merasakan penderitaan  terhadap fakir miskin yang senantiasa hidup dalam kekurangan, sehingga mereka buikan bertanya ”Besok kita Makan Apa?”, tapi ”Apa yang Bisa Kita Makan besok?”.
Dengan belajar empati ini akan tumbuhlan sifat welas asih dan kasih sayang (syafaqah war rahmah) pada laum dhuafa, yaitu mereka yang lemah secara ekonomi dan sosial. Patut disayangkan, banyak orang yang memandang Puasa hanya sebagai ritual atau ibadat dalam arti sempit, dan bukan sebagai sarana meningkatkan ”habluminannas” (hubungan dengan sesama manusia), atau diistilahkan sebagai ”Kesalehan Sosial”. Mereka ini tidak minim sekali memberi shadaqah, padahal Nabi mengatakan shadaqah yang paling mulia adalah yang dilakukan di bulan Ramadhan. Mereka tidak mau menyumbang makanan pada orang lain untuk berkua puasa, bahkan malas-malasan untuk memberikan zakat fithrah (ada yang menyuruh pembantu untuk membayar di mesjid). Kalau masih banyak orang kaya muslim yang bersikap seperti ini, kapan  kemiskinan di kalangan ummat Islam dapat dituntaskan?

2 SEBAB UTAMA
Sedikitnya ada 2 sebab utama perilaku-perilaku yang keliru seperti yang dipaparkan di atas :
1.    Kurang memahami ajaran agama Islam, khususnya hakekat dan adab berpuasa yang benar
2.    Kurang  melaksanakan”jihad” (bersungguh-sungguh) untuk menaklukkan ”musuh kita yang terbesar”, yaitu HAWA NAFSU  SECARA TOTAL, termasuk dalam perilaku dan harta.

PENUTUP
Semua manusia, termasuk saya,  pasti berbuat kekhilafan. Mari kita jadikan Ramadhan sebagai ”Syahrral Jihad”, yaitu ”Bulan Perjuangan”  sarana untuk memperbaiki dirii

Mudah-mudahan Allah meneguhkan iman Islam kita, mengampuni kita, orang tua kita,
guru-guru kita dan segenap kaum muslimin. Amin ya rabbal alamin....
Last Updated on Thursday, 12 August 2010 14:17
 

Who's Online

We have 71 guests online

SERUAN ISLAMI

TSJS
TSJS
Salam Online
Alif
SO

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday77
mod_vvisit_counterYesterday445
mod_vvisit_counterThis week522
mod_vvisit_counterLast week3130
mod_vvisit_counterThis month7158
mod_vvisit_counterLast month0
mod_vvisit_counterAll days603559

Online (20 minutes ago): 12
Your IP: 54.226.76.27
,
Today: Feb 25, 2018
Visitors Counter

Tips Islami

TIPS CARA MENGHAFAL NAMA-NAMA BULAN
DALAM PENANGGALAN ISLAM
:

Berdasarkan kata-kunci SUKU-KATA
dari Awal huruf nama bulan
(* untuk memudahkan,
hafalkan suku-kata per 2 bulan) :

Mu Sho, Rob-Rob, Jum-Jum,
Ro Sya, Rom Sya & Zul Zul


--» MUharrom SHOfar;
ROBiul awal -ROBi`ul akhir;
JUMadil awal - JUMadil akhir;
ROjab SYA`ban; ROMadhon SYAwal
& ZULqoidah ZULhijjah

@ Mudah kan?

»» Yuk Kita Hafalin (selagi kena
macet di jalan) dan
Diamalin (ajarkan teknik
hafalan ini kepada anak,
keluarga & teman2
sebagai da'wah) !

Seri Poster Islami

Jadwal Imsakiyah
2016 Qirsa

Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa - Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa Jadwal Imsakiyah 2015 Qirsa

SERI DOA HARIAN RAMADHAN

 

 

Kalender Islam

Jadwal Sholat

Peringatan Ayat Quran




Powered by Pandji Kiansantang.